Bibit Kambing dan Domba Kian Langka

Posted by Komara Thursday, January 21, 2010 0 comments

Tanpa pelestarian konkrit, jangan-jangan daging kambing pun kelak terpaksa diimpor.
MEMANG tidak setinggi daging sapi atau pun ayam, tetapi peluang pasar daging kambing dan domba di dalam maupun di luar negeri akhir-akhir ini kian menganga. Ini pertanda baik bagi tengkulak dan peternak musiman kambing dan domba, tetapi tidak sepenuhnya apik buat para peternak dan pengumpul kawakan. Mengapa ?

Karena mereka yang tersebut belakangan waspada, bersamaan dengan pasar yang lapar terasa juga kian langka kambing dan domba bakalan didapat di kandang atau pun di pangonan. Mereka sudah sampai pada kesimpulan, kalau tidak dari sekarang dilakukan sistem pembiakan yang terprogram dan terkontrol, maka bukan tidak mungkin suatu saat ternak kambing dan domba terkuras habis dari pangonan Indonesia. Akan lebih celaka lagi, jangan-jangan kelak Indonesia juga terpaksa mengimpor daging atau ternak kambing dan domba dari Australia, atau bahkan dari Malaysia. Huh !
Fauzi Luthan, Direktur Budidaya Ternak Ruminansia – Ditjennak Deptan, kepada Trobos mengiyakan, masalah bibit memang menjadi salah satu kendala yang hingga kini menghambat pengembangan peternakan kambing dan domba (‘kado’). Banyak pihak masih enggan bergerak di bidang pembibitan ini, karena secara teknis memang cukup rumit, dan keuntungan yang diperoleh bisa tidak sepadan. Berbagai persyaratan harus dipenuhi, seperti kualitas induk dan pejantan yang bagus, harus ada proses seleksi anak, dan tata cara kawin harus memperhatikan silsilah yang baik.
Sementara itu Sekjen Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Abdul Jabbar Zulkifli berterusterang, dari perspektif bisnis, rata-rata peternak dan pengusaha kado lebih memilih bisnis penggemukan (fattening). Yakni hanya menggemukkan (membesarkan) tubuh kambing/domba untuk meningkatkan berat badan saat dijual. Keuntungannya jelas, usaha ini memiliki pasar yang nyata, riil, mudah diprediksi pasarnya tak sulit diraih. Penggemukan biasanya dilakukan menjelang Idhul Qurban, puncak laparnya pasar kado. Jarang ditemukan penggemukan di luar momen itu, kecuali pada usaha peternakan yang telah mempunyai pasar tetap (captive market).
Mulai Dirintis
Meski jarang dan dianggap kurang menguntungkan tetapi syukurlah masih ada komunitas peternakan yang meniti usaha pembiakan secara sistemik. Salah satu di antaranya adalah Kampoeng Ternak, sebuah lembaga pemberdayaan peternak jejaring Dompet Dhuafa Republika. Awal September tahun lalu, jumlah ternak yang difokuskan sebagai ternak bibit adalah domba garut, jumlahnya mencapai 660 ekor terdiri dari 43 jantan dan 617 betina. Berdasarkan laporan kerja Kampoeng Ternak, selain dipelihara di kawasan Ternak Domba Sehat (farm kado di bawah pengelolaan langsung tim Kampoeng Ternak Pasir Buncir – Caringin - Bogor) bibit ini juga tersebar di 10 kelompok masyarakat binaannya.
Dalam jangka panjang pembibitan ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan para kelompok tani yang dikelola Kampoeng Ternak. Seleksi dan pemantauan yang dilakukan Kampoeng Ternak terbilang cukup serius. “Dan dalam waktu dekat, silsilah bibit yang keluar dari Kampoeng Ternak bisa dilengkapi sertifikat,” Purnomo, Direktur Kampoeng Ternak menjelaskan.
Selain Kampung, pembibitan secara serius juga dikembangkan peternakan Villa Domba yang berlokasi di Bandung. November tahun lalu TROBOS menyaksikan kandang dan areal masing-masing khusus untuk anak, induk dan pejantan bibit. Suatu sistem seleksi, perkawinan betina dengan jantan pilihan dilakukan pula di peternakan kambing domba yang terintegrasi dengan perkebunan vanilli organik ini. Direktur Villa Domba, Agus Ramada dan Direktur Operasi Alam Yanuardi menjelaskan, semua ini bertujuan meningkatkan kualitas domba-domba lokal. Teknisnya, anak-anak dari kelahiran domba yang ada diperiksa dari bobot lahirnya. Bobot dilihat juga dari jumlah anak yang dilahirkan, seekor paling tidak dia harus memenuhi bobot 2,5 kg. Penimbangan selama masa pertumbuhan pun senantiasa dilakukan. Kalau hingga lepas sapih bobotnya tidak memenuhi standar, terpaksa dipindahkan untuk penggemukan”.
Pemberdayaan Peternak
Tak hanya bibit, skala usaha peternak kambing-domba yang sebagian besar masih gurem layak mendapat perhatian. Sebuah sentuhan khusus membidik titik sentra budidaya – peternak rakyat— bisa jadi solusi. Dan konsep ini telah dikembangkan Kampoeng Ternak. Selain pembibitan, sejak awal berdirinya di tahun 2005, Kampoeng menitikberatkan visi pengembangan kewirausahaan sosial peternakan rakyat. Dan kambing-domba menjadi icon komoditasnya.
Nilai sosial ini yang terbilang jarang dilakukan dalam kerangka meningkatkan kemampuan skala usaha peternak. Menurut Direktur Kampoeng Ternak, Purnomo, sosial dan bisnis harus beriringan. Filosofinya, bak dua sisi rel kereta api, tidak bisa dipisah, pun tak boleh disatukan. Jika ini terjadi, pastilah gerbong kereta akan roboh. Filosofi ini digunakan Kampoeng untuk mengangkat harkat dan kehidupan para petani peternak kado yang tersebar hampir di seluruh daerah yang menjadi kantong-kantong kemiskinan negeri ini.
Setiap petani ternak yang kebanyakan hanya memiliki 2-3 ekor kambing atau domba mendapatkan bantuan dari Kampoeng hingga dapat memelihara kado mendekati skala ekonomis sebagai usaha sampingan, 7-10 ekor. Hingga akhir 2006, program pemberdayaan peternak telah menjangkau 18 propinsi, melibatkan 1475 kepala keluarga petani-peternak dhuafa (miskin). Saat ini populasi pemeliharaan tak kurang 3227 ekor domba garut dan 1.000 lebih kambing (peranakan Etawa/ PE dan Boerawa). Pendekatan kerakyatan ini sejalan dengan kondisi petani peternak kambing domba yang lebih dari 90 % adalah petani gurem, memelihara kambing domba hanya sebagai sambilan.
Sistem Bagi Hasil
Mencapai skala ekonomis, 7 ekor dengan modal dari kantong sendiri terbilang mahal bagi para peternak yang notabene menjadikan kambing domba sebagai piaraan mewah berharga. Hasilnya, tampaklah segitu-gitu saja kambing-domba yang dipelihara (tak pernah lebih dari 5 ekor). Kalaupun ada uang yang memungkinkan bisa digunakan untuk menambah populasi, biasanya lebih baik diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sistem permodalan yang diberikan Kampoeng Ternak terbilang tidak biasa. Uang tidak diserahkan begitu saja. Sebuah kelompok petani peternak mesti terbentuk untuk dapat mengakses dana ke lembaga ini. Masing-masingnya bisa beranggotakan 10 – 20 orang. ”Ini bertujuan agar para petani peternak bisa diawasi dan mengawasi usaha rekanannya yang lain,” Purnomo menjelaskan. Dengan demikian, upaya ”nakal” yang kadang muncul, menjual kambing atau domba sebelum waktunya, bisa dikurangi.
Kriteria lainnya, kelompok dimaksud harus layak mendapat bantuan, mampu memelihara ternak, dan lingkungan mendukung untuk pemeliharaan ternak.
Hasil peliharaan tidak boleh dijual ke blantik atau tengkulak yang umumnya ada di tiap desa. Tapi harus ke mitra Kampoeng Ternak. Alasannya? ”Biar peternak tidak dibodohi blantik!” ucap Purnomo. Ia menjelaskan, selama ini blantik dengan mudah bisa menentukan harga di tingkat peternak, kadang terlalu rendah, tidak sesuai dengan harga yang tinggi di pasar.
Tak hanya itu penjualan ke pihak Kampoeng juga akan memudahkan perhitungan bagi hasil yang menjadi ketentuan dari program pembiayaan ini. Perbandingannya 60:40. Rinciannya kata, 60 % untuk peternak dan 40 % kembali ke Kampoeng Ternak. Bagian untuk Kampoeng digunakan kembali untuk mengembangkan kelompok dan pembiayaan kegiatan pendampingan.
Selain mendapatkan ternak, kelompok juga mendapatkan dukungan pembuatan kandang, obat-obatan, dan jika diperlukan sebagian akan mendapatkan bantuan bibit rumput. Di beberapa kelompok, sewa lahan untuk kandang juga difasilitasi. Jenis ternak diutamakan dari jenis ternak lokal, seperti Domba Garut di Jawa Barat, Domba Ekor Gemuk di Jawa Timur, Kambing kacang dan ’wedus gembel’ di Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Timur serta Kambing Peranakan Ettawa di Lampung dan Jawa Tengah. Di masa mendatang, daerah-daerah ini diharapkan akan tumbuh menjadi sentra produksi peternakan yang berbasis pada peternakan rakyat.

Read More..
| | edit post

BUDIDAYA TERNAK DOMBA

1. KELUARAN
Ternak domba berproduksi optimal

2. PEDOMAN TEKNIS
1) Jenis domba asli di Indonesia adalah domba ekor tipis, Domba ekor gemuk dan Domba garut
2) Memilih bibit
a. Pemilihan bibit, umur Domba > 12 bulan (2 buah gigi seri tetap), dengan tubuh baik, bebas cacat tubuh, puting dua buah dan berat badan > 20 kg, keturunan dari ternak yang beranak kembar.
b. Calon pejantan, umur > 1 1/2 tahun (2 gigi seri tetap), keturunan domba beranak kembar, tidak cacat, skrotum symetris dan relatif besar, sehat dan konfirmasi tubuh seimbang.

3) Pakan
a. Ternak domba menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat).
b. Pakan tambahan dapat disusun (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.
c. Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb.
d. Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar)

4) Pemberian pakan induk
Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.
5) Kandang
Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m2 untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m2, sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m / ekor. Tinggi penyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.
6) Pencegahan penyakit : sebelum dikandangkan, domba harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.

3. SUMBER
Departemen Pertanian,

Read More..
| | edit post
| | edit post

Artikel Domba Garut

Posted by Komara 0 comments
| | edit post

Adu Domba atau yang dikenal dengan sebutan Laga Domba adalah suatu permainan rakyat yang sudah ada di Garut sejak lama. Masyarakat sangat berkesan melihat Domba Adu yang mempunyai badan yang kokoh, indah, lincah dan memiliki gerakan-gerakan yang sangat bagus saat bertanding. Ketangkasan Laga Domba biasanya dilaksanakan setiap bulan Juni setiap tahunnya.

Domba Garut yang dibudidayakan masyarakat Garut sejak lama merupakan hasil persilangan segitiga antara domba asli Indonesia, domba Merino dari Asia Kecil dan domba ekor gemuk dari Afrika. Domba jantan dewasa mempunyai bobot 80 kg, lehernya kuat sekali, tanduknya besar, dan dagingnya enak.

Lamanya pertandingan sekitar 3 menit, dan biasanya domba-domba membenturkan kepalanya sebanyak 20 hingga 25 kali. Namun, sebelum jumlah benturan terlaksana, wasit berhak menghentikan pertarungan bila dilihatnya ada salah satu dari domba yang cedera. Bahkan, jika terlihat parah, domba tersebut bisa saja di eksekusi saat itu juga agar tidak menderita lebih lama nantinya.



Saat ini komunitas pencinta, penikmat maupun pemilik dan peternak domba adu yang lebih dikenal dengan sebutan domba garut ini, jumlahnya dari tahun ke tahun terus bertambah. Berdasarkan catatan HPDKI Jawa Barat yang sebelumnya di ketuai H. Uu Rukmana dan kini dijabat Ir. H. Yudi Guntara Noor, jumlah anggota sudah mencapai 4.400.000 orang dengan 7 juta ekor domba.
Domba Garut sangat populer di Jawa Barat, oleh sebab itu maka hampir seluruh
penggemar / petani domba memilih untuk beternak domba Garut. Kita dapat
mendapatkan domba Garut di beberapa lokasi, seperti Garut, Bayongbong, Cibuluh, Cikajang, Cilawu, Leles, Kadungora, Majalaya, Patrol, Sumedang, Tasikmalaya, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Lembang, dan lokasi lainnya.

Rumput adalah makanan utama dari domba. Kita biasanya mendapatkan rumput segar setiap 2 atau 3 hari sekali. Kita berusaha untuk menyediakan seluruh makanan dalam keadaan segar. Alasannya adalah makanan tersebut masih akan banyak mengandung vitamin dan mineral di dalamnya. Akan sangat sulit bagi para peternak untuk mendapatkan rumput diwaktu musim kemarau. Diwaktu musim hujan, akan sangat banyak rumput tersedia untuk domba-domba tersebut.

Untuk memberikan makanan tambahan berupa sisa dari proses pembuatan tahu
yang dinamakan "ampas tahu". Dengan ditambahkannya jenis makanan ini, maka
pertumbuhan domba tersebut akan semakin pesat, dan karena makanan tambahan ini mengandung banyak vitamin dan mineral, akan sangat bagus apabila makanan ini tersedia secara kontinyu, sebagai contoh 2 hari sekali. Apabila tersedia setiap hari, hal tersebut lebih baik lagi.

Biasanya ada pula peternak yang memberikan konsentrat pada domba-dombanya. Konsentrat tersebut biasanya adalah konsentrat untuk kuda atau sapi, tapi ada pula yang dikhususkan untuk domba.

Makanan lainnya untuk domba dapat berupa dedaunan, seperti: daun pisang, daunjagung, daun nangka, dan lain sebagainya. Tetapi ada hal yang harus diperhatikan, bahwa tidak semua domba tersebut akan suka dengan dedaunan yang kita sediakan. Semuanya bergantung kepada rutinitas makanan yang kita berikan. Hanya satu yang perlu diingat, apabila anda akan memberikan makanan baru kepada domba-domba anda, maka berikanlah makanan tersebut secara bertahap, dari mulai sedikit hingga jumlah yang diinginkan. Campurkanlah makanan baru tersebut dengan makanan lama sedikit demi sedikit, lalu kemudian setelah 3 atau 4 hari, dapatlah diberikan makanan tersebut secara terpisah dengan porsi yang diinginkan.

Di bawah adalah jadwal vaksinasi yang biasanya diberikan pada domba. Para peternak lainnya mungkin menggunakan jadwal lain yang diterapkan pada dombanya. Untuk jadwal detail vaksinasi, dapat anda tanyakan pada dokter / mantri hewan serta dinas peternakan setempat.
Vaksinasi:
Anthrax ,
1 Tahun Sekali; Tetanus ,
1 Tahun Sekali; Obat Cacing,
3 Bulan Sekali; Penyakit Kuku dan Mulut,
1 Tahun Sekali; Vitamin / Antibiotik,
Apabila diperlukan.

Hampir seluruh kontes ketangkasan domba diadakan setiap akhir minggu. Apabila ada kontes skala besar, maka hari Sabtu biasanya digunakan juga untuk kontes tersebut. Kontes tersebut biasanya dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 15.00 / 16.00 WIB. Suatu lokasi kontes biasanya dibuka dua minggu satu kali, tetapi ada pula yang satu minggu satu kali atau bahkan satu bulan satu kali. Jadwal tersebut akan berubah apabila bertemu dengan bulan yang mempunya lima hari Minggu, hubungi sekretariat HPDKI masing-masing daerah.Berikut ini adalah sebagian besar jadwal kontes seni ketangkasan domba di propinsi Jawa Barat, khususnya di daerah Garut, Bandung, Sumedang, Majalaya, Cisarua, Subang, and Lembang.
Jadwal kontes:
- Daerah Bandung:
1. Lapangan Siliwangi : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
2. Lapangan Muh. Toha : Minggu kedua setiap bulannya.
3. Lapangan Arcamanik : Minggu ketiga setiap bulannya.
4. Lapangan Ciwaruga : Minggu kedua setiap bulannya.
5. Lapangan Cimahi : Minggu kedua setiap bulannya.

- Daerah Cileunyi:
1. Lapangan Cikandang : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
2. Lapangan Cibolerang : Minggu kedua setiap bulannya.
3. Lapangan Kiaraberes : Minggu kedua setiap bulannya.

- Daerah Garut:
1. Lapangan Nagreg : Minggu kedua setiap bulannya.
2. Lapangan Leles : Minggu pertama setiap bulannya.
3. Lapangan Batunanceb : Minggu kedua tiap bulannya.
4. Lapangan Cikajang : Minggu pertama setiap bulannya.
- Daerah Sumedang:
1. Lapangan Cimalaka : Minggu pertama dan ketiga setiap bulannya.
2. Lapangan Tanjungsari : Minggu kedua setiap bulannya.
3. Lapangan Kadipaten : Minggu ketiga setiap bulannya.
4. Lapangan UNPAD : satu tahun dua kali.

- Daerah Cianjur / Bogor:
1. Lapangan Cibodas : Minggu keempat setiap bulannya.
2. Lapangan Cipanas : akan diumumkan kemudian.
3. TMII (Taman Mini Indonesia Indah) : satu tahun sekali.

- Daerah Jakarta:
1. Lapangan Banteng : satu tahun sekali.

Read More..
| | edit post

Forum Saung Dorut

Posted by Komara Wednesday, January 20, 2010 0 comments
| | edit post

Mekanisme Usaha Gaduh Domba Jenis Kibas (Ekor Gemuk)

Posted by Komara Thursday, January 14, 2010 1 comments

Gaduh berasal dari bahasa Jawa yang secara sederhana dapat diartikan sebagai seseorang yang memberikan modal yang dimilikinya untuk dikembangkan orang lain. Gaduh biasanya diterapkan pada peternakan dengan mekanisme bagi hasil antara peternak dan pemilik modal. Mekanisme gaduh ini telah terbukti saling menguntungkan bagi kedua belah pihak, pemilik modal dan pedomba21ternak.

Radio Komunitas Lintas Merapi, Kelompok Ternak Ngudi Rukun, dan Pasar Komunitas mengembangkan manajemen investasi online. Pemodal dan peternak yang saling berjauhan mampu berkomunikasi secara vitual dalam fitur yang sudah disediakan di website Pasar Komunitas.

Mekanisme dan Sistem Gaduh

Pemilik modal menyediakan uang Rp. 700.000,00 untuk pembelian Domba Kibas (domba gembel buntut gemuk). Domba gembel yang dibeli merupakan kualitas unggulan. Berbeda dengan domba gembel biasa yang seharga Rp. 500.000,00. Pemilihan domba unggulan karena mempertimbangkan kualitas anak yang dihasilkan akan bagus seperti induknya, dengan harga jual yang lebih stabil, sehingga lebih menguntungkan dimbanding dengan domba biasa. Domba yang dibeli adalah domba induk yang sudah siap untuk bereproduksi.

Domba unggulan biasanya bereproduksi setahun dua kali (enam bulan masa kehamilan), dengan jumlah anak yang dilahirkan rata-rata satu ekor. Jika anak domba yang dilahirkan adalah jantan, maka anak domba tersebut dijual setelah berumur 6 bulan. Pemilik modal akan akan mendapatkan 40% dari penjualan, dan peternak mendapatkan 60% sebagai ganti atas pemeliharaan. Harga domba jantan kurang lebih satu juta rupiah.

Namun, jika anak-anak domba yang dihasilkan adalah berjenis kelamin betina maka mengikuti alur penggaduhan selanjutnya. Anak pertama akan menjadi milik penggaduh, namun tidak boleh dijualbelikan sampai lahirnya anak kedua dalam kondisi yang sehat. Anak kedua sepenuhnya adalah milik pemodal. Pemodal berhak untuk menjual atau memberikan anak domba kedua ini untuk digaduh kembali. Sistem pembagian hasil ini begitu seterusnya sampai domba yang diinvestasikan beranak-pinak.

dombaAnak pertama yang merupakan milik dari peternak tidak boleh dijualbelikan karena mekanisme bagi hasil belum berjalan sempurna. Pada posisi ini baru peternak yang memperoleh keuntungan. Selain itu, tidak boleh dijualbelikan untuk memberikan jaminan pada peternak bahwa mereka punya modal yang produktif atau tabungan dan tidak digunakan untuk hal-hal yang konsumtif. Anak pertama tersebut boleh dijualbelikan jika peternak dalam keadaan mendesak, misalnya sakit, kematian, bencana, dll. Pengawasan terhadap hal ini dilakukan oleh kelompok ternak Ngudi Rukun dan Radio Komunitas Lintas Merapi.

Induk domba rata-rata mampu beranak sebanyak empat sampai lima kali, kurang lebih masa produktifnya dua tahun. Setelah itu, domba induk tersebut dijual sebagai pedaging. Domba induk yang dijual ini berharga kurang lebih 500 ribu. Namun yang akan diterima pemilik modal sebesar 400 ribu, karena 100 ribu (20%) akan dikontribusikan ke Radio Komunitas Lintas Merapi dan kelompok ternak atas peran-peran sosialnya dalam masyarakat dan atas jasa-jasarnya dalam melakukan pengawasan dan quality control selama dua tahun terhadap sistem gaduh yang dijalankan. Peran-peran Radio Komunitas Lintas Merapi dan Kelompok Ternak Ngudi Rukun adalah:

*

Melakukan pengawasan dan memberikan jaminan terhadap sistem gaduh sehingga tidak akan terjadi kecurangan di kedua belah pihak. Pengawasan terhadap peternak dilakukan dengan rapat bulanan, tepatnya malam Rabu Pahing.

*

Mengatur jual beli, mencarikan pembeli dan mencarikan bibit, sehingga memudahkan pemodal dan peternak.
*

Mencarikan pejantan untuk reproduksi
*

Melakukan tanggung renteng. Jika peternak melakukan kecurangan atau mengalami musibah sehingga tidak bisa memelihara domba, maka kelompok dan radio komunitas wajib mencari peternak lain untuk tetap menjaga sistem gaduh berjalan normal.
*

Melakukan transfer pengetahuan pada peternak-peternak sehingga memiliki cukup bekal untuk memelihara domba dan ternak-ternak yang lain.
*

Melaporkan setiap perkembangan (melahirkan, sakit, hilang, setoran, dll) melalui website Pasar Komunitas. Laporan dalam bentuk foto dan tulisan.

Cara Pemelihaaan Domba

Kelompok Ngudi Rukun terdiri dari 20 orang. Masing-masing anggota kelompok mampu memelihara domba sebanyak lima ekor. Pembatasan lima ekor untuk menjaga kualitas ternak yang dikembangkan dan untuk menjaga kesesuaian kemampuan peternak dalam mengatur waktu karena harus bekerja di sektor lain, pertanian, perkembunan, dll.

Domba dipelihara di kandang pribadi milik masing-masing peternak yang biasanya terletak di belakang rumah. Domba tidak ditempatkan dalam kandang bersama. Sehingga, pengontrolan pertumbuhan domba bisa dilakukan lebih intensif. Keuntungan lainnya dari pemeliharaan di kandang pribadi peternak adalah pemodal tidak perlu takut kalau dombanya tertukar dengan domba milik orang lain.

Kelompok Ngudi Rukun dan Radio Komunitas Lintas Merapi akan melakukan pengawasan secara formal melalui laporan-laporan yang disampaikan oleh peternak dalam rapat bulanan, malam Rabu Pahing. Pengawasan secara langsung juga pasti akan terjadi karena masing-masing peternak berada dalam satu desa yang memiliki kekerabatan yang tinggi. Perkembangan apapun yang terjadi akan langsung bisa terdeteksi.

Hasil rapat dan perkembangan domba-domba dilaporkan melalui website Pasar Komunitas. Untuk itu, para pemodal dapat terus menerus memantau perkembangan domba yang digaduhkan.

Simulasi Pemeliharaan

Pak Slamet adalah karyawan yang bekerja di salah satu perusahaan yang ada di Jakarta. Pak Slamet membuka-buka website Pasar Komunitas dan tertarik untuk melakukan penggaduhan. Pak Slamet kemudian mengkontak Pasar Komunitas dan Radio Komunitas Lintas Merapi. Setelah mengontak dan mengonfirmasi mekanisme gaduh yang dijelaskan di website, kemudian Pak Slamet setuju untuk mengirimkan uang sebesar 700 ribu. Pak Slamet berencana membeli satu ekor Domba Kibas.

Tanggal 2 Januari 2007, peternak dan Radio Komunitas Lintas Merapi membeli seekor domba untuk Pak Slamet. Domba tersebut dipelihara dan siap dikawinkan seminggu kemudian. Bulan Juni 2007, induk domba telah beranak. Anak domba pertama (D-1) berjenis kelamin betina. Pada bulan Juli 2007, induk domba dikawinkan kembali dan melahirkan anak kedua (D-2) pada bulan Januari 2008. domba pertama (D-1) adalah milik peternak dan domba kedua (D-2) adalah milik Pak Slamet.

Pak Slamet memutuskan untuk menggaduhkan kembali D-2. Pada bulan Juni 2008, D-2 sudah siap dikawinkan dan beranak pada desember 2008. Sedangkan induk domba pada tahun 2008 menghasilkan dua anak domba lagi (D-3 dan D-4). Pada Januari 2009, Pak Slamet sudah memiliki 4 domba, yaitu satu induk domba, D-2, D-4, dan calon anak dari D-2.

Juli 2009, induk domba melahirkan anak kelima yang berjenis kelamin jantan. Anak kelima ini kemudian dijual, tidak digaduhkan lagi, sehingga Pak Slamet mendapatkan 40% dari hasil penjualan. Induk domba sudah melahirkan lima kali sehingga akan dijual untuk diambil dagingnya. Induk domba ini laku seharga 500 ribu. Pak Slamet menerima uang sebesar 400 ribu, karena 100 ribu sisanya dikontribusikan kepada Radio Komunitas Lintas Merapi dan Kelompok Ternak Ngudi Rukun atas jasa-jasanya selama dua tahun.

Anak-anak domba yang digaduhkan, D-2, D-4, anak D-2, dan seterusnya, berkembang terus-menerus sesuai dengan sistem gaduh yang sudah ada. Lima tahun kemudian Pak Slamet dengan mudah bisa menyekolahkan anaknya dari hasil menjual kambing-kambing hasil gaduh ini.

Read More..
| | edit post

Panduan Kurban

Posted by Komara 0 comments

LANDASAN SYAR’I
Allah SWT berfirman: “Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah nama Alloh ketika kamu menyembelihnya dalam keadan berdiri dan (telah terikat). Kemudian apabila ia telah roboh (mati), maka makanlah sebagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta minta ) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah mudahan kamu bersyukur”. (QS. Al-Hajj (22): 36)
“Daging daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj (22): 37)
“Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar (108): 2)

KEUTAMAAN BERQURBAN
Pertama, Wujud Rasa Syukur Kepada Allah SWT. Firman Allah : “Maka dirikanlah sholat karena Tuhan-mu dan berkorbanlah.” (QS. Al-Kautsar (108) ayat: 2)
Kedua, Termasuk perbuatan yang paling dicintai Allah SWT. Hadits Rasululah saw. Dari Aisyah ra.: “Tidak ada perbuatan manusia yang paling dicintai Allah swt. pada hari qurban kecuali mengucurkan darah (hewan qurban) karena sesungguhnya hewan tersebut akan datang pada hari kiamat dengan bentuk seutuhnya (tanduknya, kukunya dan kulitnya) dan sesungguhnya darahnya akan sampai disisi Allah sebelum sampai ke bumi.”

HUKUM BERQURBAN
Sunah Muakkad.
Dari Ummu Salamah ra berkata Rosululloh Saw bersabda “Apabila kalian telah melihat hilal bulan Dzilhijjah dan ada di antara kalian yang akan berqurban maka hendaklah ia tidak memotong rambut dan kukunya”. (HR.Muslim)

SYARAT-SYARAT BERQURBAN
1. Muslim
2. Mampu
3. Masuk Waktu
4. Dengan hewan ternak yang di tentukan oleh Syara’
UMUR HEWAN QURBAN
1. Kibasy yang sudah berumur minimal 1 tahun.
2. Kambing yang sudah berumur minimal 2 tahun.
3. Kerbau yang sudah berumur minimal 2 tahun.
4. Unta yang sudah berumur minimal 5 tahun.

Atau yang sudah mengalami copot salah satu giginya (tsaniyyah). Yang dimaksud dengan gigi adalah salah satu gigi dari keempat gigi depannya, yaitu dua di bawah dan dua di atas.

Catatan:
• Unta, kerbau dan sapi untuk 7 orang
• Kambing untuk 1 orang.

Aib yang menjadikan hewan terlarang untuk di qurban
1. Buta sebelah atau kedua matanya
2. Pincang salah satu kakinya
3. Sakit parah/berbahaya
4. Kurus yang sedikit dagingnya.
5. Terpotong kuping dan buntutnya.
6. Memakan kotoran atau tahi
Sedangkan yang tidak ada tanduknya dan yang sudah dikebiri di bolehkan karena keduanya membuat daging hewan tersebut menjadi subur.

WAKTU PELAKSANAAN.
Sejak Hari Iedul Adha setelah sholat dan dua khutbahnya sampai Akhir Hari Tasyriq. Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang menyembelih sebelum Sholat Ied sesungguhnya ia menyembelih untuk dirinya dan barang siapa yang menyembelih setelah sholat dan dua khutbahnya maka ia telah menyempurnakan ibadahnya dan ia telah melaksanakan sunnah orang orang beriman” (HR.Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda “Hari-hari Mina (Tasyriq) adalah hari hari untuk berqurban” (HR.Ibnu Majah)

HAL-HAL YANG DI SUNNAHKAN KETIKA BERQURBAN
1. Membaca Bismillah “Maka makanlah binatang binatang (yang halal ) yang di sebut nama Allah ketika menyembelihnya” ( QS Al-Ana’am:118 )
2. Membaca Sholawat Kepada Nabi Muhammad SAW.
3. Menghadap Ke Qiblat.
4. Membaca Takbir . Sebagaimana riwayat Anas bin Malik “Bahwasanya Rasulullah SAW Menyembelih dua ekor Kibasy (Domba) yang besar dan mempunyai dua tanduk dengan dua tangannya yang mulia sambil beliau membaca bismillah dan takbir” (HR.Syaikhoni)
5. Membaca Doa agar di terima sebagai mana Rosululloh Saw berdoa ketika berqurban “Yaa Allah terimalah qurban Muhammad dan Keluarga Muhammad” (HR.Muslim)

Catatan
Seorang yang berqurban karena nazar tidak boleh memakan daging qurban tersebut, sedang yang berqurban dengan qurban sunnah di bolehkan untuk memakannya walaupun afdholnya ia sedekahkan semuanya kepada yang berhak.

BERBAGAI PERMASALAHAN SEPUTAR QURBAN
1. Jika ada seorang fakir membeli seekor kambing dengan niat qurban maka hukumnya menjadi wajib untuk qurban, karena pembelian yang diniatkan untuk qurban bagi siapa saja yang tidak wajib berqurban menjadi wajib qurban, hal tersebut sama dengan nadzar.
2. Jika hewan qurban tersebut melahirkan, maka dipotong bersama anaknya, apabila anaknya dijual maka hasilnya di shadaqahkan.
3. Mayoritas ulama berpendapat boleh berkongsi (patungan) untuk hewan quran unta atau sapi dan tidak diperbolehkan untuk selain hewan tersebut.
4. Berkongsi (patungan) dalam hewan qurban harus dengan niat yang sama yaitu untuk qurban dan tidak boleh ada seorangpun yang berbeda, jika ada yang berbeda maka perkongsiannya menjadi batal walaupun hanya 1 orang (menurut madzhab Imam Hanafi).
5. Hari yang afdhol untuk qurban adalah hari raya sampai terbenam matahari.
6. Apabila hewan qurban tersebut hilang atau dicuri, kemudian membeli hewan lain lalu ditemukan kembali, maka afdholnya adalah disembelih keduanya dan boleh disembelih salah satunya.
7. Jika pequrban mewajibkan dirinya untuk berqurban, lalu hewannya hilang atau dicuri maka tidak ada jaminan baginya untuk mengganti (menurut madzhab Imam Hambali), tetapi apabila hewan tersebut kembali, maka disembelih baik ketika hari-hari qurban atau setelahnya.
8. Haram menjual kulit, daging, tanduk, bulu, kepala, kuku, susu atau yang lainnya dari hewan qurban yang dipotong.
9. Tidak memberikan kulit atau bagian lain dari hewan qurban kepada tukang jagal sebagai upah atas pekerjaannya.
10. Apabila salah dalam menentukan hari raya kemudian shalat dan menyembelih pada hari itu, lalu ternyata hari tersebut masih hari Arafah, maka sah shalat dan qurbannya.

Read More..
| | edit post

Mengundang Devisa Negara

Dengan stok populasi Domba Garut yang semakin terbatas akibat banyak peternak yang enggan untuk membibitkan domba, Eka Agro Rama menerapkan sistem ban berjalan dengan penjualan Domba Garut lepas sapih. Domba Garut betina unggulan adalah mesin produksi dalam usaha ternak yang dijalankan. Namun tentunya usaha ini sangat memerlukan pula kerjasama dengan berbagai pihak baik itu dibidang produksi dan juga pemasaran.

Tidak mungkin selamanya Eka Agro Rama menambah kapasitas kandang dengan luas lahan yang terbatas. Peranan organisasi himpunan (HPDKI) di sini memiliki kontribusi yang besar untuk memetakan dan membina potensi jaringan produksi yang ada di mana selanjutnya dapat diarahkan pula kepada pintu pemasaran yang tersedia. Eka Agro Rama melalui kegiatan pelatihan yang diadakan bersama Agromania dan juga Kampoeng Ternak akan senantiasa mencari peternak-peternak baru yang tertarik dalam usaha pengembangan Domba Garut.

Tidak hanya sekedar pelatihan, fungsi pendampingan dan bimbingan teknis budidaya serta akses pintu pemasaran juga menjadi bagian penting dari kegiatan pasca pelatihan. Di mana selain itu harus dirangkul pula media informasi sebagai public soundingsetiap program usaha peternakan yang dimiliki, tegas Agus Ramada. Peran Puslitbangnak bersama balai-balai yang ada dan dinas peternakan provinsi setempat sebagai basis ilmu pengetahuan juga tidak boleh diabaikan, hal ini amat diperlukan sehingga peternak tidak akan buta terhadap aplikasi teknologi terbaru.

Tidaklah kecil tentunya pendapatan devisa negara yang dapat diperoleh dari pengelolaan usaha ternak Domba Garut intensif. Terlebih dengan potensi pasar kebutuhan daging domba di kawasan Timur Tengah sebanyak 30 ribu ekor tiap minggunya. Bukan pekerjaan yang ringan dan mudah tentunya, akan tetapi bisa menjadi suatu peluang usaha yang menjanjikan bilamana kita mau mulai berpikir dan bergerak ke arah sana. Long journey is begins with the small step. Salam Peternak Domba Sehat!

Lebih bernilai komersial

Dibandingkan dengan sapi, kuda dan kerbau sebagai sesama hewan ruminansia, hewan ternak domba lebih dulu memiliki nilai komersial sejak abad 7000 SM. Bahkan di Indonesia keberadaan hewan ternak domba dapat dilihat pada relief Circa 800 SM pada Candi Borobudur. Oleh karenanya tidak heran bila jumlah populasi domba jauh lebih banyak dibandingkan dengan kambing di dunia.

Data Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2002, jumlah populasi domba dunia kurang lebih 1.034 milyar ekor sedangkan kambing hanya sekitar 743 juta. Populasi terbesar domba dan kambing dunia adalah di negara Tirai Bambu Cina, di mana negara kedua terbesar adalah Australia untuk domba dan India untuk kambing. Sebagai bagian dari sektor usaha peternakan nasional, prosentase kebutuhan daging domba dan kambing masyarakat Indonesia adalah masih jauh di bawah sub sektor usaha peternakan lainnya seperti ayam/ unggas (56%), sapi (23%) serta babi (13%). Menurut data Ditjen. Peternakan – Deptan RI tahun 2005, konsumsi daging domba dan kambing di masyarakat memang masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 5%.

Namun bila melihat potensi kebutuhan daging hewan ternak ini yang pada tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 – 3 ekor tiap harinya, pertumbuhan populasi domba dan kambing adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat.

Kebutuhan Pasar Meningkat

Potensi ini belum dihitung kebutuhan pasar di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah yang tiap tahunnya membutuhkan kurang lebih 9,3 juta ekor domba. Di mana kebutuhan pasokan daging domba untuk kawasan Timur Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru.

Miris memang, di mana Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi masyarakat muslim terbesar di dunia sebenarnya lebih memiliki peluang untuk itu. Pertumbuhan populasi domba dan kambing di Indonesia adalah relatif kecil sedangkan permintaan terus meningkat seiring jumlah penduduk dan perbaikan pendapatan kesejahteraan masyarakat.
Bukan mustahil suatu saat akan terjadi kelangkaan produksi daging domba dan kambing sehingga pelaksanaan ibadah kurban akan mengimpor dari Australia ataupun Selandia Baru. Di Indonesia, keberadaan populasi domba dan kambing hampir tersebar dengan merata di seluruh wilayah. Namun sayangnya pemeliharaan ternak domba dan kambing di negeri ini sebagian besar masih dalam skala kecil dan tradisional.

Berbeda dengan Australia, pola peternakan intensif dengan dukungan teknologi telah menjadikan negara tersebut dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Bayangkan saja, total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 adalah setara dengan 3,6 juta ekor.

Populasi hewan ternak domba dan kambing terbesar pada akhir tahun 2006 ada di wilayah provinsi Jawa Barat yaitu kurang lebih 3,5 juta ekor atau sekitar 49% dari jumlah populasi nasional. Di provinsi ini bahkan terdapat jenis hewan ternak ruminansia kecil yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia serta menjadi ciri khas provinsi yang dikenal dengan julukan bumi parahyangan tersebut.

Pilihan Sektor Usaha Peternakan

Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah organik pasar dan rumah tangga. Kelebihan lain teknologi ini adalah dapat berperan pula sebagai bio fungisida untuk pengendalian penyakit pada tanaman. Adalah tepat bila sektor usaha peternakan dan pertanian memang harus saling bersinergi.

Terlebih lagi saat ini petani dalam posisi sulit diantara kenaikan biaya produksi sebagai akibat harga pupuk yang terus melambung, di sisi lain petani tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual sehingga perolehan pendapatan semakin menipis. Terbesit gagasan pula untuk mengkombinasikan ternak Domba Garut dengan sektor perikanan air tawar. Design kandang ternak domba dibuat panggung di atas kolam ikan.

Dari Topi Koboi sampai Sepatu Boot

Suatu kepuasan ketika tanduk Domba Garut jantan dapat terbentuk dan tumbuh maksimal ataupun dengan keindahan corak serta warna bulu yang dihasilkan. Sepatu boot, bertopi koboi, pakaian hitam adalah ciri penghobi ketika datang ke arena seni dan budaya adu ketangkasan. Dan jangan salah, harga 1 ekor ternak Domba Garut jantan berkualitas dikalangan penghobi dapat bernilai di atas 10 juta rupiah bahkan ada yang ratusan juta rupiah.

Read More..
| | edit post

konservasi dan Strategi Pemuliaan

Semula konservasi hewan hanya diartikan sebagai upaya pelestarian hewan liar, dan hanya ditangani oleh Departemen Kehutanan karena habitat hewan yang akan dikonservasi berada di hutan. Namun dalam perkembangan selanjutnya, konservasi dikaitkan dengan ekosistem dan upaya-upaya mempertahankan keberadaan hewan dan ternak yang ada. Kebijaksanaan pemerintah yang berlandaskan pada konsep-konsep konservasi, yang telah dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Peternakan adalah :
  1. Adanya kebijakan pewilayahan ternak, dan
  2. Telah diaturnya teknik pelestarian ternak rakyat melalui metode pola PIR. Program pewilayahan ternak berfungsi untuk relokasi dan penyebaran ternak sehingga mencegah terjadinya penghancuran materi genetik. Pembagian wilayah dibagi atas wilayah sumber bibit, wilayah produksi, dan wilayah konservasi.

Wilayah Sumber Bibit
Wilayah sumber bibit merupakan wilayah pengembangan ternak domba secara murni. Pada wilayah sumber bibit dilakukan pelestarian secara in-situ dengan menutup wilayah tersebut terhadap pemasukan bangsa domba lain maupun bangsa yang sama dari wilayah lain. Pelestarian ex-situ dapat dilakukan dengan menetapkan pulau atau wilayah tertentu diluar habitat aslinya menjadi sumber bibit bangsa murni. Upaya perbaikan mutu genetik untuk peningkatan produktivitas domba dilakukan melalui program seleksi dalam bangsa. Dalam upaya mempertahankan mutu genetik di berbagai daerah sumber bibit perlu dilakukan :

  1. Perhitungan secara tepat jumlah serta mutu bibit yang dapat dikeluarkan, seimbang dengan jumlah mutu bibit yang perlu dipertahankan sebagai ternak pengganti.
  2. Penentuan standart mutu bibit lokal maupun nasional yang sesuai dengan karakteristik bangsa domba lokal dengan melibatkan asosiasi-asosiasi peternakan rakyat.
  3. Pelestarian dengan teknologi mutakhir, misalnya dengan pengawetan semen dan embrio melalui proses pembekuan dan penyimpanannya pada bank plasma nutfah, didukung oleh program inseminasi buatan (IB) dan embrio transfer (ET) yang terencana dan dianggap layak, merupakan kemungkinan lain yang perlu mendapat perhatian pemerintah dan swasta.

Wilayah Produksi
Wilayah produksi berfungsi sebagai wilayah pengembangbiakan untuk tujuan komersil, yang memungkinkan menggunakan teknik-teknik perkawinan silang dan penggemukan. Persilangan (Crossbreeding) merupakan salah satu cara untuk peningkatan mutu genetik domba yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas. Usaha “ranch” dan penggemukan dapat dilakukan terhadap bangsa murni maupun hasil persilangan. Umumnya usaha penggemukan menguntungkan bila didukung oleh kebijaksanaan harga bibit yang menarik.

Wilayah Konservasi
Wilayah konservasi hanya dibutuhkan untuk menangkarkan bangsa domba asli yang masih ada atau mengembangbiakan hasil dari wilayah sumber bibit.

Strategi Pemuliaan Pada Domba

Pemuliaan ternak harus diawali dengan perbaikan kondisi lingkungan kemudian dilanjutkan dengan perbaikan potensi genetik. Sebelum menentukan program pemuliaan, perlu ditentukan aspek produksi dan reproduksi yang diharapkan. Perbaikan genetik dapat dilakukan dengan cara seleksi dan persilangan (cross breeding).

Seleksi adalah pemilihan secara sistematis induk dan pejantan sebagai tetua untuk generasi selanjutnya. Persilangan adalah perkawinan antar ternak yang memiliki hubungan kekerabatan lebih jauh dari rataan hubungan kekerabatan kelompok asal ternak. Keuntungan utama persilangan adalah hybrid vigor atau heterosis, yaitu jika seekor induk dikawinkan dengan pejantan dari bangsa yang berbeda, turunannya akan lebih baik performanya untuk sifat-sifat tertentu daripada tetuanya. Keuntungan yang diperoleh dari hasil persilangan adalah :

  1. Heterosis yang memungkinkan diperolehnya rataan produksi yang lebih baik dari tetuanya seperti pada bobot lahir, produksi susu induk, laju pertumbuhan, bobot sapih, dan bobot potong.
  2. Memperbaiki salah satu sifat yang kurang baik dari salah satu bangsa.
  3. Meningkatkan daya hidup dengan diperolehnya daya adaptasi yang lebih baik dan tahan terhadap penyakit.
  4. Menurunkan mortalitas, terutama pada periode pra-sapih dengan bobot lahir dan produksi susu yang lebih tinggi.
  5. Meningkatkan daya reproduksi seperti dalam pencapaian dewasa kelamin dan dewasa tubuh yang lebih cepat.
  6. Menghilangkan atau mengurangi sifat lethal.

Pada periode pra-sapih pada domba, heterosis akan meningkatkan bobot lahir 3,2%; bobot sapih 5,0%; dan pertambahan bobot badan 5,3% (Rae, 1982). Perlu diingat bahwa dalam persilangan yang telah stabil, ketika crossbreed dikawinkan dengan crossbreed, hybrid vigor akan hilang. Kemajuan potensi genetik akan lebih cepat tercapai jika program pemuliaan dilakukan dengan persilangan yang diiringi dengan seleksi (Gatenby, 1991). Persilangan dapat dilakukan dengan perkawinan dua bangsa domba atau lebih (Noor, 1996).

Read More..
| | edit post

Beberapa faktor penyebab kepunahan ternak antara lain :

  • Pengrusakan habitat dalam bentuk mengurangi/memusnahkan sumber pakan, perubahan fungsi habitat alaminya.
  • Eksploitasi yang berlebihan dalam bentuk pemotongan/pengeluaran ternak yang tidak terkendali.
  • Introduksi jenis asing dalam bentuk persilangan antar bangsa yang berbeda tanpa adanya pengendalian, sehingga terjadi erosi sumberdaya genetik ternak.

Ternak domba saat ini telah memiliki pangsa pasar tersendiri, dan permintaan di dalam negeri masih dapat dicukupi oleh produk domestik. Akan tetapi peluang ekspor ke kawasan Asean atau Timur Tengah masih terbuka, dan kemungkinan terjadinya lonjakan permintaan untuk keperluan qur’ban juga sangat besar. Di lain pihak peluang ini juga mendapat ancaman dari serbuan produk dari negara tetangga, maupun kemungkinan “banjir” daging beku dari kawasan bebas penyakit berbahaya. Oleh karena itu perlu terus diupayakan untuk meningkatkan daya saing produk domba, antara lain dengan memperbaiki mutu genetik ternak lokal.

Langkah ini juga harus memperhatikan kondisi peternak kecil yang saat ini mendominasi usaha breeding dan penggemukan domba. Sebagaian besar peternak masih mengandalkan keramahan alam dan lingkungan, sehingga usahanya masih jauh dari sentuhan teknologi. Secara alami beberapa galur lokal mempunyai keistimewaan dalam hal tingkat reproduksi (beranak 3 kali dalam 2 tahun; litter size besar), daya tahan terhadap serangan cacing, serta mempunyai kualitas kulit dan karkas yang memadai. Konsumen, dalam hal ini jagal atau penjual sate, menginginkan ternak dengan ukuran dan kualitas tertentu (kecil, gemuk dengan marbling cukup dan berdaging empuk), dan di setiap daerah ada sedikit perbedaan preferensi (Kombit TN, 2002).

Di samping itu dalam pengelolaan sumberdaya genetik (SDG) ternak, khususnya upaya meningkatkan mutu genetik melalui seleksi maupun persilangan terdapat beberapa masalah yang dihadapi, yaitu :

  1. Belum adanya program breeding yang jelas.
  2. Kegiatan IB diduga telah mengakibatkan peningkatan inbreeding karena penggunaan pejantan dalam kurun waktu yang lama.
  3. Perda atau kebijakan yang dijalankan di beberapa daerah sumber bibit, dikhawatirkan telah mengakibatkan terjadinya seleksi negatif (ternak yang mempunyai ukuran besar terjual yang sisa hanya yang ukuran kecil).

Read More..
| | edit post

Sejarah Domba Garut

Posted by Komara 0 comments

Asal Usul Domba Garut

Proses terbentuknya Domba Priangan atau Domba Garut, sementara ini diyakini berawal dari persilangan tiga bangsa domba, yaitu Domba Merino, Domba Kaapstad, dan Domba Lokal dari Wilayah Priangan, sehingga dalam perkembangan selanjutnya dikenal dengan nama Domba Priangan atau Domba Garut, karena awal persilangan dan perkembangan Domba Priangan terbaik berasal dari daerah Garut.

Tahun 1864 pemerintah Belanda mulai memasukkan Domba Merino yang pemeliharaannya diserahkan pada KF Holle, Tahun 1869 domba-domba tersebut dipindahkan ke Garut, dan secara bertahap dilakukan penyebaran ke beberapa penggemar domba, antara lain kepada Bupati Limbangan (satu pasang) dan Van Nispen seekor pejantan Merino yang pada saat itu kebetulan memiliki seekor domba Kaapstad, serta disebarkan ke beberapa daerah lain, seperti ke Kabupaten Sumedang, Garut, dan Bandung (Merkens dan Soemirat, 1926). Penyebaran tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya ras Domba Priangan atau Domba Garut. Persilangan yang telah berlangsung secara terus menerus selama puluhan tahun, dan berjalan tanpa suatu program dan arah yang jelas, antara Domba Merino X Domba Lokal, Domba Merino X Domba Lokal X Domba Kaapstad, banyak diyakini oleh para peneliti bahwa ini merupakan asal usul terbentuknya ras Domba Priangan. Namun demikian, kajian secara ilmiah belum dapat diungkapkan dengan pasti, khususnya kajian dari sisi komposisi darah dan gena Domba Garut (Heriyadi, 2002).

Versi Lain Mengenai Asal-usul Domba Priangan atau Domba Garut

Versi lain mengenai asal-usul perkembangan Domba Garut diyakini berasal dari domba lokal asli Garut, yaitu dari Daerah Cibuluh dan Cikeris di Kecamatan Cikajang serta dari Kecamatan Wanaraja. Keyakinan tersebut dilandasi oleh teori bahwa seluruh bangsa domba yang ada di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok domba bermuka putih (white face) dan domba bermuka hitam (black face).

Domba-domba muka putih secara genetik membawa warna yang lebih dominan dibandingkan warna pada domba muka hitam, sedangkan domba-domba yang diimpor masuk ke Indonesia sejak Jaman Belanda sampai sekarang kebanyakan dari kelompok domba muka putih (termasuk Domba Merino, Texel, dan Domba Ekor Gemuk), sehingga warna hitam yang banyak terdapat pada Domba Garut dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja yang sejak dahulu dikenal dengan domba-dombanya yang dominan berwarna hitam, termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan, di samping itu Domba Cibuluh memiliki ciri yang sangat spesifik, yaitu bertelinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran panjang kurang dari 4 cm atau ngadaun hiris (4 - 8 cm), sedangkan domba-domba lokal rata-rata memiliki daun telinga yang rubak dengan ukuran panjang lebih dari 8 cm.

Teori Merkens dan Soemirat yang menyatakan bahwa Domba Priangan berasal dari persilangan yang kurang terencana dari tiga bangsa domba (Merino X Lokal X Ekor Gemuk), itu pun dapat diterima sejauh belum ada pembuktian melalui penelitian darah dan gena yang terdapat pada Domba Garut atau Domba Priangan, namun demikian hal tersebut dapat mengaburkan keberadaan domba asli Cikajang (Cibuluh dan Cikeris) dan Wanaraja, karena domba asli Kecamatan Cibuluh dan Kecamatan Wanaraja Garut telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum Domba-domba impor dimasukkan ke Indonesia.

Bahkan yang perlu dikaji, baik secara historis mau pun sosiologis mengenai keberadaan salah satu relief pada situs yang terdapat di Candi Prambanan, pada situs tersebut terlihat dua ekor domba yang saling berhadap-hadapan sebagai hewan persembahan, ke dua domba tersebut, memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan ciri khas Domba Priangan, antara lain kuping yang ngadaun hiris mendekati rumpung dengan tanduk ngabendo, profil muka cembung, dan bulu pada bagian di seputar lehernya yang dibiarkan tumbuh memanjang (bulu yang saat ini dibiarkan terjurai di bawah leher pada Domba Garut atau disebut nyinga, merupakan modifikasi dari pola pencukuran bulu pada waktu itu), artinya domba pada situs tersebut sangat mirip dengan performa Domba Garut yang pada abad ke delapan, telah ditemukan di daerah Jawa Tengah, domba tersebut dipandang sebagai domba terbaik dari domba-domba yang ada pada masa lalu, karena tidak mungkin domba yang berkualitas rendah dijadikan hewan persembahan yang diabadikan dalam bentuk relief pada sebuah candi yang besar, sekelas Candi Prambanan.

Read More..
| | edit post

Sejarah Domba

Posted by Komara 0 comments

Asal Usul Ternak Domba

Domba yang kini dipelihara mempunyai taksonomi sebagai berikut (Piper dan Ruvinsky, 1997) :
Famili : Bovidae
Sub-famili : Caprinae
Genera : Ovis
Grup : Tipe ekor, tipe penutup tubuh.

Pada awal sebelum terjadinya proses domestikasi, domba masih hidup liar di pegunungan. Perburuan hanya dilakukan untuk mendapatkan daging guna pemenuhan hidup sesaat. Pemeliharaan ternak dimulai ketika manusia merasa perlu mempunyai cadangan daging setiap saat diperlukan, sehingga dimulailah pemeliharaan ternak domba yang merupakan awal dari proses domestikasi. Bangsa domba yang dipelihara sekarang ini adalah domba tipe perah, pedaging, dan penghasil wol.

Tidak diketahui secara pasti, kapan domba mulai dipelihara di Indonesia, akan tetapi dengan adanya relief domba di Candi Borobudur (circa 800 SM), menandakan bahwa domba sudah dikenal masyarakat sekitarnya pada saat itu (Ryder, 1983). Domba yang sekarang menyebar di seluruh dunia ini sesungguhnya berasal dari daerah pegunungan Asia Tengah, dimana sebagian menyebar ke arah Barat dan Selatan sehingga dikenal sebagai kelompok urial dan yang lainnya menyebar ke Timur dan Utara yang dikenal sebagai kelompok argali. Terdapat tiga macam domba berdasarkan asalnya (bagian Barat dan Selatan Asia), yaitu Ovis musimon, Ovis ammon, dan Ovis orientalis. Sebelum terjadinya pemisahan daratan antara kepulauan Indonesia dan jazirah Melayu, maka domba yang ada di kawasan tersebut boleh jadi menyebar dari kawasan Asia Tengah (sekarang daerah Tibet, Mongolia), kemudian ke daerah Kamboja, Thailand, Malaysia dan kawasan Barat Indonesia seperti Sumatera yang pada saat itu masih bersatu dengan Malaysia. Hal tersebut terbukti dari jenis domba yang dijumpai di kawasan tersebut adalah dari jenis ekor tipis dengan penutup tubuh berupa rambut.

Pada masa kolonial Belanda, berbagai importasi ternak dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda, diantaranya adalah kambing dan domba, terutama ke pulau Jawa sebagai pusat pemerintahan pada saat itu dan Sumatera Barat dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas domba lokal yang ada (Merkens dan Soemirat, 1926). Selain itu, kedatangan pedagang Arab ke Wilayah Nusantara memberikan kontribusi pada keragaman jenis ternak domba yang ada, yaitu dengan membawa domba ekor gemuk ke propinsi Sulawesi Selatan dan Pulau Madura. Demikian pula setelah masa kemerdekaan, dapat dilihat dari banyaknya importasi jenis domba pada masa Orde Baru dengan tujuan utama meningkatkan produktivitas ternak domba lokal. Bisa disebut antara lain domba yang berasal dari daerah bermusim empat seperti Merino, Suffolk, Dorset, Texel (Natasasmita dkk., 1979), maupun domba dari daerah tropis dengan penutup tubuh berupa rambut, seperti domba St. Croix dan Barbados Blackbelly (Subandryo dkk., 1998).

Read More..
| | edit post

Domba merupakan ternak yang pertama kali didomestikasi, dimulai dari daerah Kaspia, Iran, India, Asia Barat, Asia Tenggara, dan Eropa samapai ke Afrika. Di Indonesia, domba terkelompok menjadi:

  1. Domba ekor tipis (Javanese thin tailed),
  2. Domba ekor gemuk (Javanese fat tailed), dan
  3. Domba Priangan atau dikenal juga sebagai domba garut.

Secara umum ketiga jenis domba tersebut dibedakan dengan ciri-ciri sebagai berikut :

Domba ekor tipis:
Domba ini merupakan domba yang banyak terdapat di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ini termasuk golongan domba kecil, dengan berat potong sekitar 20 – 30 kg. Warna bulu putih dan biasanya memiliki bercak hitam di sekeliling matanya. Ekornya tidak menunjukkan adanya desposisi lemak. Domba jantan memiliki tanduk melingkar, sedangkan yang betina biasanya tidak bertanduk. Bulunya berupa wol yang kasar.

Domba ekor gemuk:
Domba ini banyak terdapat di Jawa Timur dan Madura, serta pulau-pulau di Nusa Tenggara. Di Sulawesi Selatan dikenal sebagai domba Donggala. Tanda-tanda yang merupakan karakteristik khas domba ekor gemuk adalah ekor yang besar, lebar dan panjang. Bagian pangkal ekor membesar merupakan timbunan lemak, sedangkan bagian ujung ekor kecil tidak berlemak. Warna bulu putih, tidak bertanduk. Bulu wolnya kasar. Domba ini dikenal sebagai domba yang tahan terhadap panas dan kering. Domba ini diduga berasal dari Asia Barat Daya yang dibawa oleh pedagang bangsa Arab pada abad ke-18. Pada sekitar tahun 1731 sampai 1779 pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor domba Kirmani, yaitu domba ekor gemuk dari Persia. Apakah domba ekor gemuk merupakan keturunan dari domba-domba ini, belum diketahui. Bentuk tubuh domba ekor gemuk lebih besar dari pada domba ekor tipis. Domba ini merupakan domba tipe pedaging, berat jantan dewasa antara 40 – 60 kg, sedangkan berat badan betina dewasa 25 – 35 kg. Tinggi badan pada jantan dewasa antara 60 – 65 cm, sedangkan pada betina dewasa 52 – 60 cm.

Domba Priangan:
Terdapat di Priangan, yaitu di Bandung, Garut, Sumedang, Ciamis, dan Tasikmalaya. Domba ini dipelihara khusus untuk diadu. Domba priangan bertubuh besar, dahi konveks, tanduk yang jantan besar dan kuat, melingkar seperti spiral. Domba ini diduga diciptakan dari persilangan antara domba Merino dan domba Cape dengan domba lokal sekitar tahun 1864. Namun sekarang sudah tidak ada bekas-bekas dari karakteristik wol domba Merino. Pada domba Priangan, kadang-kadang dijumpai adanya domba tanpa daun telinga. Domba ini sudah terkenal sebagai salah satu domba yang mempunyai angka reproduktivitas tinggi di dunia.

Read More..
| | edit post


Musik rancak khas Sunda, terdengar membahana di sebuah arena pertandingan, dengan nyawa taruhannya. Adu domba. Kepala dengan kepala saling beradu. Adu kekuatan menyingkirkan lawan. Jika perlu, memukul lawan hingga tewas bersimbah darah.Domba Priangan atau orang kerap menyebutnya Domba Garut yang banyak dijumpai di tanah Pasundan ini, bagi kalangan peternak domba, punya arti besar. Berbeda dengan jenis domba umumnya, Domba Garut merupakan hasil persilangan 3 jenis domba.

Domba lokal, domba Merino dan domba ekor gemuk asal Afrika Selatan. Berbadan kekar, leher besar dan kuat. Ciri lain, tanduknya besar berbentuk spiral dengan pangkal tanduk hampir bersatu. Panjang bulunya hingga mencapai 10 centimeter. Warnanya putih, hitam, coklat, atau campuran ketiganya.

Khusus domba pejantan, punya naluri berkelahi yang tinggi. Karena itu, selain diternak domba pejantan, sesuai dengan postur tubuhnya yang besar dan kokoh, seringkali dijadikan pula domba aduan. Untuk mencetak keturunan domba kualitas unggul ini, bibit bobot dan bebet domba betina diperhatikan betul.

“Kalo untuk cari kambing unggulan, adu tangkasnya bagus, kita akan cari bibit yang baik. Bibit, bobot bebetnya harus betul-betul dikuasai. Jadi dikatakan ada 1 biang cetak”.

Sejak usia muda, pejantan kualitas unggul, telah dipersiapkan sebagai domba aduan. Perawatannya sangat diperhatikan, seperti kebersihan, kesehatan fisik, serta pemberian makanannya. Minimal 2 kali seminggu dimandikan, serta dicukur bulunya. Ini untuk menghindari serangan penyakit kulit. Begitu pula dengan kukunya, dibentuk sesuai selera pemilik.

“Yang paling pokok persiapan fisik untuk bertanding ini karena mungkin lawan kita yang akan datang tidak sembarangan kambing. Sudah mempersiapkan kambing yang baik, yah minimal kita untuk mengimbangilah”.

Sama halnya manusia, domba-domba ini juga dilatih lari dan berenang, untuk mendapatkan otot tubuh yang kuat. Secara rutin, domba aduan juga dilatih adu ketangkasan dalam berkelahi.

Sehari-harinya, domba yang dipersiapkan untuk aduan, asupan makanan yang diberikan, bervariasi. Mulai dari rumput, labu siam, wortel, ampas tahu, hingga singkong yang sangat bagus untuk tenaga. Beberapa hari menjelang adu domba, biasanya diberi telor mentah.

Sesungguhnya tak sulit merawat domba aduan, hanya dibutuhkan ketelatenan. Perawatan yang baik serta kontinyu, bisa menghasilkan domba pejantan siap adu dengan bobot bisa mencapai 140-an kilogram. Seperti domba-domba pejantan ini, setiap saat siap untuk diadu, mempertaruhkan nyawa di lapangan.

Lapangan bola di sebuah kawasan wisata Gunung Salak Endah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pagi itu ramai dikunjungi orang. Mereka ingin menonton pertarungan seru yang akan digelar sesaat lagi. Adu domba, kesenian khas masyarakat Sunda yang sudah ada semenjak jaman kerajaan Sunda berdiri, ratusan tahun silam.

Di tempat yang sama, puluhan domba berasal dari Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya dan Kabupaten Bandung, lengkap dengan pakaian kebesaran masing-masing, tengah menanti saat-saat menegangkan. Beradu ketangkasan melawan domba lain yang sebanding berat tubuh dan usianya. Domba-domba ini sejak kecil memang telah dipersiapkan untuk menjadi domba aduan. Siap bertarung dilapangan sampai mati.

Hari itu sungguh istimewa. Tari-tarian tradisional khas Sunda dipertontonkan sebagai pembuka acara. Untuk memeriahkan suasana, sejumlah domba pilihan diarak keliling lapangan, unjuk kekuatan dan kegagahan tubuhnya. Mengawali pertandingan, dua ekor domba jantan tengah dipersiapkan. Begitu bertatap muka, secara naluri, mereka langsung berkelahi.

Kepala beradu dengan kepala. Disinilah harga diri domba dipertaruhkan. Domba yang keluar sebagai juara, harga jualnya akan melonjak tinggi, hingga 2-3 kali lipat dari harga awal. Jika harga awal sekitar 3 atau 5 juta rupiah, maka nantinya sang pemenang harga jualnya bisa mencapai 10 juta rupiah.

Domba-domba aduan ini terbagi dalam beberapa kategori. Kategori A, B dan C. Masing-masing kategori terbagi lagi dalam 3 kelas. Seperti kelas A, terdiri dari A utama atau raja, menengah dan kelas 3. Begitu pula dengan kategori B dan C terbagi lagi dalam 3 kelas. Domba yang masuk kategori A, memiliki berat badan lebih dari 100 kilogram. Sedang kelas B, berat badannya antara 60 sampai 70 kilogram. Kurang dari itu, termasuk kelas C.

Pertandingannya itu sendiri, ada 2 macam, berdasarkan berat badan atau usia. Untuk pertandingan antar kategori, domba kategori B utama, boleh melawan kategori A menengah atau A kelas 3, namun tidak diperbolehkan melawan domba raja, karena tak seimbang kekuatannya. Dari segi usia, domba yang siap diadu telah cukup umur, atau minimal giginya rontok 4 atau 6 buah.

Di ajang adu domba ini, ada seorang wasit yang memimpin jalannya pertandingan. Wasit tak boleh lengah sedikitpun, sebab wasitlah yang mengetahui dan menentukan sampai dimana kekuatan domba yang tengah beradu ini.

Seperti pertandingan tinju, benturan-benturan antar kepala domba dinilai sebagai pukulan baik, mematikan atau tidak. Begitu pula langkah maju mundur dan hentakan kakinya saat berlari menyerang lawan. Semakin jauh langkah mundur yang dibuat, semakin kuat benturan kepalanya. Ini akan mendapat nilai tinggi. Keberanian domba di arena bertandingan, juga dinilai. Disini juri berperan.

Selain wasit dan juri, juga ada 2 orang pendamping, yang akan mendampingi domba peserta selama pertarungan berlangsung. Tugas pendamping tak kalah penting. Bagai seorang montir, jika domba asuhannya mengalami luka atau letak tanduknya bergeser, dialah yang harus memperbaiki.

Pertandingan baru setengah jalan. Seekor domba milik Haji Maksum asal Sukabumi, tak berdaya lagi mengalahkan lawannya. Monster namanya. Padahal telah berulang kali menang dalam arena adu domba. Di kalangan peserta adu domba, beredar kepercayaan, bahwa setiap kali akan melaksanakan adu domba, sebaiknya diawali dengan penyembelihan seekor domba untuk selametan. Sayangnya, pertandingan kali ini, luput melaksanakan hal tersebut.

Namun diluar unsur kepercayaan yang beredar, berlaku peraturan, bagi domba yang kalah bertarung hingga di ujung maut, harus direlakan untuk disembelih.

Hampir setiap bulan,di wilayah Jawa Barat, dijumpai ajang serupa, adu domba. Di Kabupaten Bogor sendiri, adu domba ini sudah menjadi agenda pariwisata.

“Kegiatan ini dilaksanakan setiap bulan yah dan sudah masuk kalender pariwisata di Kabupaten Bogor. Sehingga dengan demikian, minat masyarakat terhadap pariwisata, juga disamping itu merupakan hiburan. Kegiatan ini bagian daripada seni budaya ktia di daerah sini. dan kegiatan ini tidak ada unsur judi, terus terang saja ini sifatnya hanya hiburan semata”.

Penyelenggaraan acara seperti ini memang lebih bersifat mempererat hubungan antara sesama peternak domba, saling bertukar ilmu cara beternak domba yang baik dan sekedar menyalurkan hobi. Apapun tujuannya, kesenian khas Pasundan ini merupakan arena hiburan murah meriah bagi warga sekitar arena pertandingan.(Idh)

Read More..
| | edit post


Domba garut adalah jenis domba warisan leluhur urang Sunda. Jenis domba kontes di Jawa Barat ini adalah hasil persilangan antara domba lokal, Afrika, dan Marino, pada tahun 1850-1860. Di dunia domba garut diakui sebagai salah satu jenis domba dengan postur paling besar. Domba ini mewarisi postur besar dari Marino, agresivitas dari Afrika, dan kelezatan daging dari domba lokal Jawa Barat.

Dalam perkembangannya, sering terjadi perkawinan silang antara domba garut dengan domba jenis lainnya. Akibatnya, kualitas domba yang dihasilkan terus menurun, salah satu indikasinya adalah postur yang semakin kecil.

Atas kondisi itu, timbul keprihatinan dari sejumlah kalangan. Perlu diupayakan pemurnian kembali gen domba garut. Salah seorang dari sedikit kalangan yang tergerak untuk mengembalikan kemurnian gen domba garut adalah Rahmat Priatna.

”Bobot hidup domba garut yang asli bisa mencapai 60 kilogram per ekor pada usia satu tahun. Namun, bobot hidup domba lokal atau hasil perkawinan silang domba garut yang tidak murni lagi paling-paling hanya 30 kilogram,” kata Rahmat.

Awal perkenalan Rahmat dengan domba garut dimulai tahun 2000 ketika ada warga yang hendak memelihara domba garut, tetapi tidak memiliki modal sama sekali. Bermodalkan lahan kosong yang dimilikinya di Ciampea, Cimande, Bogor, Rahmat lalu membelikan domba garut asli untuk warga tersebut.

”Awalnya saya beli 3 pejantan dan 11 betina. Ketiga domba jantan adalah legenda kontes di Jawa Barat yang memang berasal dari keturunan yang bagus,” kata Rahmat. Domba-domba jantan yang bernama Lipur, Dewa, dan Bagja itu dibeli dari seorang pemilik di Garut, dengan harga Rp 4 juta per ekor. Adapun setiap domba garut betina dibeli dengan harga Rp 1 juta-Rp 1,5 juta.

Ternyata warga yang meminta modal beternak itu tak sanggup melakukan budidaya dan mengembalikannya kepada Rahmat. ”Daripada saya jual lagi, saya putuskan memelihara sendiri domba-domba itu,” katanya.

Dengan memelihara sendiri domba menjelang masa pensiunnya dari sebuah badan usaha milik negara, Rahmat mengetahui seluk-beluk domba garut. Dia mempelajari sendiri teknik budidaya dari para pemilik domba garut kontes. ”Saya kemudian tahu, ternyata domba garut yang asli memang memberikan keuntungan ekonomi yang sangat besar bagi peternaknya. Domba garut yang tidak asli justru merugikan karena hasilnya tidak akan sesuai dengan jerih payah yang sudah dilakukan para peternak selama memelihara,” kata Rahmat.

Melihat kenyataan itu, Rahmat lalu memulai proses pemurnian gen domba garut ketika memasuki masa pensiun pada tahun 2002. Waktu Rahmat kemudian tercurah seluruhnya untuk mempelajari dan mempraktikkan pemurnian atau pemuliaan gen domba garut yang asli.

”Proses pemurnian dimulai dengan mengawinkan domba garut yang layak diduga memiliki gen bagus. Domba garut yang layak diduga memiliki gen bagus biasanya memiliki silsilah yang jelas,” katanya.

Domba garut yang ikut kontes biasanya memiliki catatan silsilah dengan bukti siapa indukannya. Proses perkawinan untuk pemurnian itu dilakukan hingga generasi keempat. Artinya, pada generasi kedua hingga keempat domba garut harus dikawinkan dengan pasangan yang kualitasnya bagus.

”Setelah generasi keempat gen domba garut sudah bagus secara permanen jika kemudian dikawinkan dengan domba garut lain yang asli,” kata Rahmat. Sama seperti manusia, domba juga dilarang kawin dengan domba lain yang memiliki hubungan darah karena akan menghasilkan gen yang jelek.

Dalam proses pemurnian itu, Rahmat mencatat dengan teliti silsilah keturunan dari Lipur, Dewa, dan Bagja, agar tidak terjadi perkawinan sedarah. ”Ketiga keturunan dari pejantan itu saling saya kawinkan. Berdasarkan catatan yang saya miliki, tidak terjadi perkawinan sedarah sehingga kualitas domba yang dihasilkan setelah generasi keempat memang bagus,” katanya.

Rahmat mengatakan, setelah mendapatkan domba garut dengan gen yang asli, budidaya menjadi sangat menguntungkan. Dari 14 domba garut yang dimurnikan itu, Rahmat membudidayakannya dengan sistem maro atau bagi hasil dengan peternak tradisional di Cimande, Kecamatan Cisaat, dan Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi.

Awalnya dia mengajak peternak tradisional yang masih memelihara domba lokal atau domba garut yang tidak asli lagi. ”Ternyata tidak sulit mengajak mereka memelihara domba garut asli. Setelah melihat bukti bahwa memelihara domba garut asli lebih menguntungkan, mereka percaya,” kata Rahmat.

Rahmat memilih peternak tradisional yang umumnya tinggal di daerah pertanian. Beberapa peternak yang bermitra dengan Rahmat bahkan tinggal di kaki Gunung Gede Pangrango yang jauh dari pusat keramaian. ”Memelihara domba garut itu hanya perlu tiga hal: kemauan, rumput, dan air. Domba garut termasuk sangat tahan penyakit sehingga tidak perlu terlalu takut akan terserang penyakit yang mematikan,” katanya.

Kalaupun terserang penyakit, tidak sulit mengobatinya. ”Obat-obatan tradisional sangat ampuh menyembuhkan penyakit yang menyerang domba garut. Buah pinang, misalnya, manjur untuk mengobati cacingan atau daun serai untuk kutu kulit. Obat-obatan tradisional lain bisa diramu dari lengkuas atau daun cabai rawit,” kata Rahmat.

Tahun 2007 populasi domba garut asli milik Rahmat yang diternakkan dengan sistem maro sudah mencapai 300 ekor. Jumlah itu berkurang 100 ekor pada tahun berikutnya karena dijual Rahmat menjelang Idul Adha.

Budidaya domba garut asli, kata Rahmat, sangat menguntungkan dibandingkan dengan domba jenis lainnya. ”Setiap delapan bulan domba garut betina bisa beranak dua. Ini amat menguntungkan para peternak yang hanya perlu mencari pakan sepulang dari bertani di sawah atau ladang. Domba bisa menjadi tabungan yang menguntungkan bagi mereka,” kata Rahmat.

***

RAHMAT PRIATNA

• Lahir: Bandung, 4 Januari 1954

• Alamat: Ciampea, Cimande, Bogor

• Istri: Siti Rahwatini

• Anak: Angga Gandara (29), Dewi Sekarmayang (24)

• Pendidikan:
- SD Negeri Mohammad Thoha Bandung
- SMP Negeri 11 Bandung - SMA Negeri 8/22 Belitung, Bandung
- Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Padjadjaran, Bandung
- Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

• Karier:
- Lembaga Ekologi Universitas Padjadjaran Bandung (1977-1981)
- Kementerian Negara Lingkungan Hidup (1981-1982)
- PT Pertamina (1982-2002) - BPH Migas (2002-2008)

Read More..
| | edit post

Domba merupakan hewan mamalia yang banyak diminati oleh banyak orang. Dari segi karakteristik, hewan ini memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan hewan. Salah satu kelebihan tersebut adalah rambut - rambut wool yang dimiliki domba inilah yang menjadi keunikan dari ternak domba dan tidak dimiliki oleh hewan lain.

Domba sudah sejak lama diternakan orang. Tercatat dalam sejarah peternakan, bahwa domba menjadi salah satu hewan yang diternakkan oleh manusia pertama kalinya. Serat – serat wool telah ditemukan diberbagai peninggalan kampung – kampung primitife di Swiss, dan diperkirakan telah berumur 20.000 tahun. Di mesir terdapat pahatan – pahatan yang mengukirkan betapa pentingnya hewan ini dikalangan mereka. Di jaman Romawipun telah melakukan domestikasi ternak domba. Ini dibuktikan dengan ditemukannya “Toga” yang biasa digunakan oleh bangsawan romawi, dimana toga tersebut terbuat dari tenunan bulu domba.

Domba dianggap keturunan dari jenis liar seperti Muoflon, yaitu sejenis domba yang berekor pendek. Jenis dan varietas yang terdapat di Eropa dan Asia adalah merupakan stok dasar untuk menghasilkan wool, daging, kulit serta susu. Praktek – praktek dari proses seleksi tidak hanya menyingkirkan instink – instink liar serta membiarkannya semakin tergantung pada manusia dalam hal tata laksana dan produksi, tetapi juga ekor domba sendiri menjadi lebih panjang.

Perkembangan produksi dan peradaban manusia semakin maju. Kegiatan pemintalan dan perajtan menjadi bagian dari perkembangan peradaban manusia sendiri, Domba menjadi sumber lahan emas untuk dijadikan produsen penghasil wol dari rambutnya. Ini memberikan peluang bagi manusia. Hingga muncullah jenis – jenis baru dan bangsa – bangsa domba yang baru sebagai penghasil wool yang berkualitas, tentu saja dengan mengorbankan beberapa sifat yang lain.

Jenis domba Merino dari Spanyol menjadi domba yang sangat dikembangkan dan menjadi salah satu bangsa domba pengahasil wool yang baik. Hingga domba menjadi barang yang penting dan mahal oleh Negara Spanyol saat itu. Inggris juga menjadi Negara yang mengembangkan domba dengan cara yang sama. Dan Inggris mampu mengembangkan banyak domba yang\dapat menyesuaikan dengan berbagai keadaan iklim di Inggris. Dan pada tahun 1500 Inggris dan spanyol menjadi Negara penghasil wool terbesar.

Sedangkan pada benua Amerika, domba bukanlah ternak asli dari sana. Ternak ini pertama kali dimasukkan oleh Colombus pada ekspidisinya yang kedua pada tahun 1493 ke India barat. Cortez memasukkan domba ke meksiko dan para misionaris Spanyol yang mengajarkan cara - cara menenun kepada orang – orang Indian, dan mereka juga ikut dalam mempopulerkan domba.

Secara karakteristik domba memiliki kesamaan antara sesama jenis domba, dan secara klasifikasi domba memiliki taksonomi sebagai berikut :

Kingdom : Animalia ( Hewan )

Phylum : Chordata ( Hewan bertulang belakang )

Class : Mamalia ( Hewan yang menyusui )

Ordo : Artiodactyla ( Hewan berkuku genap )

Famili : Bovidae ( Hewan memamah biak )

Genus : Ovis

Spesies : Ovis aries.

Read More..
| | edit post

Aneka Jenis Domba

Posted by Komara 0 comments

Pada umumnya domba diklasifikasikan oleh para peternak berdasarkan dari jenis wool yang dihasilkan. Selain itu juga ada faktor lain yang menjadi perhitungan klasifikasi, yaitu jenis daging, warna, dan ada tidaknya tanduk. Terhadap domba penghasil wool, diperhatikan klasifikasinya berdasarkan tingkatannya. Ada yang golongan wool halus, wool medium, wool persilangan, wool permadani, dan wool fur.

2.1 Bangsa – bangsa berbulu halus

2.1.1. Merino Amerika

Di impor oleh orang dari Spanyol ke Amerika pada tahun 1800. Putih merupakan warna karakteristik domba Merino Amerika yang biasanya bertanduk. Masa hidupnya panjang dan suka mengelompok. Terdapat dua jenis yaitu kelompok A dan B, berdasarkan dari tingkat kekeritingan rambut

2.1.2. Deboillet

Jenis ini merupakan hasil persilangan dari Rambouillet dengan Delaine Merino. Jenis ini berwarna putih, bertanduk, tangguh, serta dapat beradaptasi pada daerah kurang rumput sekalipun.

2.1.3. Delaine Merino

Strain dari Merino Spanyol yang mempunyai karekteristik berdaging dibandingkan dengan Merino Amerika. Memiliki warna putih, bertanduk, dan suka berkelompok, dan tubuhnya berbentuk keriting.

2.1.4. Rambouillet

Jenis ini dikembangkan dari stok Merino dari Spanyol. Domba ini berwarna putih, bertanduk , dan menonjol,karena woolnya berkualitas tinggi, mudah beradaptasi pada kondisi yang berat, dan memiliki ukuran yang tergolong besar diantara golongan berambut halus.

2.2. Bangsa Domba Berbulu Medium

2.2.1. Cheviot

Berasal dari Skotlandia yang didatangkan ke Amerika Serikat bagian Utara. Muka dan kaki bagian bawah berwarna putih dan tidak berbulu. Hidung berwarna hitam dengan kepala terangkat ke atas serta telinga tegak.

2.2.2. Dorset

Domba ini berasal dari Inggris dengan muka berwarna putih,bangsa ini sangat subur, beranak lebih awal, dan merupakan penghasil susu yang baik. Dorset lebih dikenal dengan karakteristiknya yang suka beranak pada musim panas.

2.2.3. Finnsheep

Domba bangsa ini berasal dari Finlandia dan banyak digunakan untuk proses kawin silang. Karena tinggkat kesuburannya yang istimewa, jenis ini sering disebut dengan anak sekelahiran banyak. Sebagian besar anak finnsheep mempunyai anak berwarna hitam. Dan ciri lain dari bangsa ini adalah memiliki ekor yang pendek

2.2.4. Hampshire

Bangsa ini memiliki perbedaan dari jenis domba yang lainnya. Jenis ini memiliki telinga dan hidungnya yang berwarna hitam, tidak berbulu, serta tidak memiliki tanduk. Badannya tegak dan kuat serta memiliki kekuatan yang sangat besar.

2.2.5. Montadale

Montadale merupakan domba hasil penyilangan darah dari 40% Cheviot dan 60% Columbia. Dimana memiliki karakteristik muka dan kakinya gundul, tidak bertanduk, ukuran tubuh yang medium, merupakan tipe domba daging dan berkualitas baik.

2.2.6. North Country Cheviot

Bangsa ini berasal dari Skotlandia, berwarna putih, dan biasanya tidak bertanduk, da sama Cheivot yang telah diuraikan . dan memiliki karakteristik wool yang tinggi.

2.2.7. Oxford

Domba oxford berasal dari Inggris ke Amerika pada tahun 1850. Tidak memiliki tanduk dan warnanya bervariasi. Domba ini berbadan besar, dan menghasilkan daging dan anak domba yang bagus.

2.2.8. Shropshire

Muka dari domba kelas ini berwarna hitam dan tidak memiliki tanduk, tetapi menonjol karena woolnya yang menutupi seluruh tubuh dari ujung hidung hingga kukunya.

2.2.9. Southdown

Domba yang memiliki penampilan yang hampir sama dengan penampilan Shropshire ini berasal dari Inggris Tenggara. Hidungnya berwana putih atau warna cerah, dengan tubuh bagian kaki ditumbuhi rambut yang jarang. Dari segi karkas dan daging, bangsa ini tidak diragukan lagi, karena memiliki kualitas yang sangat baik.

2.2.10. Suffolk

Domba yang berasal dari Inggris, dengan proporsional tubuh yang sangat besar, tahan panas, dan sangat tangguh. Dari segi penghasil susu, bangsa ini tergolong yang baik dalam produksinya. Namun domba bangsa ini memiliki karakteristik yang agresif dan cenderung kasar.

2.3. Domba - Domba Berbulu Panjang

2.3.1. Custwold

Berasal dari Inggris dan pertama kali diimpor ke daerah Amerika. Domba ini memiliki kualitas daging yang baik dan bulu yang panjang

2.3.2 Leicester

Daerah asal domba bangsa Leicester ini adalah dari Inggris. Memiliki kualitas daging dan bulu yang baik dengan wool yang panjang.

2.3.3. Lincoin

Domba ini lebih banyak digunakan di New Zaeland. Tidak bertanduk, dengan muka berwarna putih. Bulu menutupi sebagian muka dan kakinya. Bangsa ini memiliki dua keunggulan, yaitu merupakan bangsa domba terbesar dan merupakan domba tipe daging yang berbulu paling tebal

2.3.4. Romney

Berasal dari Inggrus, dengan wajah putih, muka lebar dan dahi menonjol. Selain berukuran besar , domba ini juga menonjol karena angka pertumbuhan yang cepat.

2.4. Domba Persilangan Penghasil Wol


2.4.1.Columbia

Merupakan hasil persilangan antara domba yang berbulu panjang dengan domba yang berbulu halus yang berasal dari Idaho, berwarna putih, mukanya lebar, dan memiliki kualitas bulu yang berkualitas tinggi.

2.4.2. Corriedale

Merupakan domba penghasil daging dan wool. Kepalanya tidak bertanduk, berwarna putih, dan bermuka lebar. Ukuran tubuhnya medium, tangguh, cepat dewasa kelamin. Dan merupakan domba tipe dwiguna ( penghasil wol dan daging yang baik.

2.4.3.Panama

Negara bagian Idaho menjadi asal domba bangsa ini. Penampilan dan karakteristiknya hampir sama dengan bangsa Columbia.

2.4.4.Targhee

Targhee berasal dari ¾ bangsa Rambouillet dan ¼ domba berbulu panjang, terutama sering menggunakan Lincoln. Domba ini merupakan hasil dari pengembangan oleh pusat penenlitian Domba di Amerika di Dubois, Idaho. Karakteristiknya yang paling menonjol adalah hasil woolnya yang berat dan panjang.

2.5. Bangsa Domba penghasil Karpet


Hanya satu jenis domba yaitu Highland bermuka hitam dari Scotlandia yang menjadi produsen besar industry karpet. Domba ini memiliki tanduk, dengan kaki berbulu, berwarna hitam atau belang – belang.

2.6. Bangsa domba penggasil Fur

Nama domba karakul berasal dari asia tengah, tempat asal domba ini. Berwarna hitam atau cokelat, dan hanya jantan saja yang bertanduk. Ekor yang dimiliki pendek dan lebar. Produksi utama dari jenis ini adalah bulu dankulitnya, dan dagingnya agak kurang. Untuk kulitnya dklasifikasikan menjadi “broadtail”, “Persian Lamb”, dan “Caracul”.

Read More..
| | edit post

Harga Domba Menjanjikan

Posted by Komara Wednesday, January 13, 2010 0 comments

Harga meninggi. Selain disebabkan permintaan naik, suplai menipis, juga karena berebut dengan Malaysia

Kado yang satu ini jangan diharap terbungkus kertas merah berpita indah. Karena ia adalah singkatan dari “kambing – domba”. Menjelang bulan haji, si kado ini banyak dicari orang, untuk dikorbankan menjadi hewan kurban di saat Lebaran Haji. Kontan, harganya pun melambung berlipat dibanding hari biasa.
Drh Abdul Jabbar Zulkifli, Sekjen HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) mencatat, sejak 6 bulan terakhir harga kambing terus merangkak naik. Dari Rp 19 ribu, Rp 20 ribu hingga Rp 26 ribu/kg per ekor hidup. Ke depan, semakin mendekati hari “H” Idul Adha, harga kambing bisa lebih dari Rp 30.000,- /kg bobot hidup. Artinya, bobot kambing hidup kisaran 20 – 25 kg per ekor bisa mencapai harga Rp 750 ribu, padahal di hari-hari biasa pada bobot 25 – 30 kg, kambing dari petani dihargai tak lebih dari Rp 400 ribuan.
Sementara itu Dhony Suryo Prabowo menunjukkan, di DIY domba lokal yang pada hari-hari biasa seharga Rp 500 ribuan, akhir September lalu menjadi Rp 650 ribu /ekor. Bahkan beberapa hari menjelang Idul Adha, harganya bisa mencapai Rp 800 ribu – Rp 900 ribu / ekor. Dhony adalah anggota tim pengelola BIMA Farm (Buana Indica Manunggal Andini yang bekerjasama dengan farm komersial Lab Ternak Potong Fapet UGM, Jogjakarta). Tak jauh beda dengan domba, harga kambing Peranakan Ettawa jantan kelas C-potong juga terdongkrak. Menurut Bondan Danu Kusuma SE pemilik Bumiku Hijau farm – Condong Catur-Jogjakarta, 2 bulan menjelang bulan haji pejantan PE potong naik Rp 200 ribu – Rp 250 ribu /ekor. “Hari biasa, harganya antara Rp 800 ribu – Rp 1 juta. Sekarang menjadi antara Rp 1 juta sampai 1,2 juta atau lebih. Diperkirakan, seminggu menjelang hari H bisa mencapai lebih dari Rp 1,3 – Rp1,5 juta,” papar alumnus FE Universitas Islam Indonesia ini.Langka Bakalan
Abdul Jabbar Zulkifli memaparkan, kenaikan harga ini selain disebabkan momen Idul Adha juga disebabkan oleh sediaan kado yang kian hari kian menipis dan permintaan pun meningkat.
” Ini masalah klasik sebenarnya. Kita kekurangan bibit domba dan kambing”, ujar Agus Ramada Setiadi menyayangkan. Ia adalah Direktur Utama Villa Domba Bandung, Jawa Barat. Dan Hariyadi pemilik 800 domba dan puluhan kambing-kacang juga di Jogjakarta mengaku, kelangkaan kado ini memaksanya berburu sampai Nganjuk dan Ponorogo, Jawa Timur. “Dulu paling jauh saya kulakan (belanja-red) sampai Solo. Tetapi ternyata kambing Solo itu berasal dari Jatim. Saya kejar lah ke sana,” tutur anggota Polantas berpangkat Bripka ini. Menurut fattener domba yang 70 %-nya berjenis Gibas (domba ekor gemuk / DEG) ini, perburuan tersebut tidak sia-sia karena disamping mendapat kepastian stok, ia pun memperoleh selisih harga antara Rp 30 ribu – Rp 50 ribu / ekor.
Cerita kelangkaan kado dituturkan pula oleh Dhony, mahasiswa Fapet UGM angkatan 2001 ini mengaku, berburu domba hingga ke luar kota seperti Muntilan, Canguk, Solo dan Wonogiri. Terakhir kali ke pasar, ia mengaku hanya mendapat 7 ekor domba, padahal biasanya bisa sampai 20 ekor. “Akhirnya berat di ongkos transpor. Sekali angkut 20 ekor ongkos Rp 200 ribu. Kalau di bawah 10 ekor, ongkos Rp 125 ribu,” tuturnya.Di sisi lain, kenaikan harga dan minimnya suplai kado di pasar, tidak semata karena kebutuhan lokal yang meningkat. Melainkan juga karena ada order dari Malaysia yang melirik domba Garut. “Dulu mereka hanya impor kambing PE (Peranakan Etawa), sekarang mulai minta domba Garut,” Abdul menjelaskan.

Read More..
| | edit post

1. Pilih dan Gunakan Bibit Kambing yang Baik :
a. Bibit betina :
- Umur 8 – 12 bulan
- Sehat, tidak cacat
- Mampu menyesuaikan diri dengan kondisi pakan yang tersedia
- Jika memungkinkan berasal dari keturunan kembar dan mampu beranak 2 -3 ekor
dalam setiap kelahiran
- Mampu melahirkan 3 kali dalam 2 tahun atau 7 bulan sekali
b. Bibit jantan :
- Umur 8 – 12 bulan
- Sehat, tidak cacat
- Kaki kuat dan tidak bengkok
- Bentuk badan panjang dan punggung rata
- Dadanya lebar dan dalam
- Otot tubuh kuat dan padat
2. Berilah Pakan yang baik
Pakan kambing terdiri dari 2 jenis yakni hijauan sebagai pakan utama dan penguat
(konsentrat) sebagai pakan tambahan. Kebutuhan pakan hijauan sebanyak 5 – 8 kg per ekor
per hari diberikan 2 kali sehari, sedangkan konsentrat diberikan 0,5 kg per ekor per hari
diberikan 1 – 2 jam sebelum hijauan diberikan.
Air minum diberikan secara ad libitum (pemberian tidak dibatasi). Garam dapur atau
mollases blok sebaiknya disediakan dikandang.
Jenis hijauan :
a. Rumput-rumputan : Rumput Gajah, Rumput raja, Rumput Benggala, Rumput Setaria dll
b. Kacang-kacangan : Gamal, Kaliandra, turi, sentrosema, stylosantes, lamtoro, siratro, daun
kacang tanah, kedelai dll
c. Daun-daunan : Daun nangka, mangkokan, alpokat dll
d. Limbah pertanian : Limbah sayur-sayuran, daun singkong, daun ubi jalar, daun pisang dll

Hindari pemberian hijauan yang masih muda, jika terpaksa digunakan hendaknya diangin-anginkan selama minimal 12 jam untuk menghindari terjadinya bloat (kembung) pada kambing.

Jenis Penguat :
-. Limbah pertanian dan agroindustri : dedak, bekatul, bungkil kelapa, ampas tahu, kulit
kakao dll.
3. Buatkan kandang yang memenuhi syarat
Syarat kandang yang baik antara lain :
- Terpisah minimal berjarak 5 – 7 meter dari rumah ‘bangunan tempat tinggal
- Model panggung
- Aliran udara/sirkulasi udara baik
- Kering dan tidak lembab
- Mudah dalam penanganan kotoran dan urine
Ukuran kandang :
- Kambing jantan dewasa : 1,2 x 1,5 m2 per ekor
- Kambing betina dewasa : 1,2 x 1,2 m2 per ekor
- Kambing dara : 1 x 1,2 m2 per ekor
- Anak : 1 x 1,2 m2 per ekor
4. Jaga Kesehatan Kambing dengan baik
Prinsip mencegah lebih baik dibandingkan mengobati harus menjadi pegangan peternak.
Beberapa jenis penyakit yang sering menyerang kambing antara lain : cacingan, kudis
(scabies), orf, sakit mata, kembung (bloat) dan timpani.
Upaya pencegahan :
1. Bersihkan kandang dan lingkungan secara rutin. Untuk membersihkan kandang dapat
dilakukan setiap hari agar kandang dan ternak tidak kotor dan bau.
2. Tangani secara benar kotoran dan urine kambing yang ada, hindarkan tersebar kemana
mana dan basah.
3. Lakukan pengobatan cacing secara teratur tiap 3 -4 bulan sekali.
4. Lakukan vaksinasi orf
5. Lakukan pemberian pakan hijauan secara benar, hindari resiko terjadinya kembung
(bloat).
6. Pisahkan kambing yang sakit dengan yang sehat agar tidak menular.
Upaya pengobatan :
1. Berikan obat sesuai petunjuk petugas kesehatan ternak.
2. Berikan perhatian khusus agar ternak cepat pulih

5. Tangani dan Kelola Reproduksi Ternak dengan Benar
Beberapa aspek reproduksi yang harus diperhatikan antara lain dewasa kelamin, masa
berahi, saat mengawinkan, kebuntingan dan penanganan kelahiran.
Dewasa kelamin adalah keadaan dimana ternak siap melaksanakan proses reproduksi.
Kambing mencapai umur dwsa kelamin pada umur 6 – 8 bulan.
Ciri-ciri berahi :
- Ternak gelisah, mencoba menaiki kawan-kawan yang lain
- Alat kelamin bengkah, kemerahan dan agak basah (3 A = Abuh, Abang dan Anget)
- Diam jika dinaiki
Berahi akan terulang lagi 19 – 21 hari kemudian apabila tidak dikawinkan atau gagal bunting.
Mengawinkan ternak :
Saat yang baik untuk mengawinkan kambing adalah 12 – 18 jam setelah tanda-tanda berahi
muncul/tampak. Untuk menghindari kegagalan perkawinan, campurkan betina berahi dgn
pejantan dalam satu kandang.
Hindarkan terjadinya perkawinan sedarah/ ada garis keturunan yang sama antara kambing
jantan dengan betina atau yang masih dekat hubungan kekerabatannya (anak dengan bapak,
anak dengan induk, antar saudara kandung).

Kebuntingan :

Tanda-tanda kebuntingan antara lain :
- Tidak terlihat tanda-tanda berahi pada siklus berahi berikutnya
- Perut sebelah kanan tampak membesar
- Ambing tampak menurun
- Ternak tampak tenang
Tangani ternak yang bunting secara benar dengan memisahkan dikandang tersendiri agar
tidak diganggu oleh ternak lainnya. Berikan pakan yang baik 2 bulan sebelum melahirkan
hingga 3 bulan setelah melahirkan yang terdiri dari :
- Rumput
- Hijauan kacang-kacangan
- Makanan penguat (dedak dll)
Ternak Melahirkan :
Tanda-tanda induk akan melahirkan :
- pinggul mengendur
- Ambing tampak besar dan puting susu terisi penuh
- Alat kelamin (vulva) membengkak kemeraha-merahan dan lembab
- Gelisah, menggaruk-garuk tanah/lantai kandang dan sering mengembik
- Nafsu makan menurun
Persiapan perawatan kelahiran :
- Bersihkan kandang
- Sediakan alas yang kering dan bersih untuk menyerap cairan yang keluar selama proses
kelahiran (jerami, karung goni)
- Sediakan jodium tinctur untuk dioleskan pada bekas potongan tali pusar
Proses Kelahiran :
- Kantong ketuban pecah
- Beberapa saat kemudian anak mulai keluar
- Setelah anak lahir potonglah tali pusarnya dan oleskan jodium tincture pada bekas
potongannya
- Biarkan induk menjilati anak yang baru lahir, jika induk tidak mau menjilati bersihkan
cairan yang menempel dengan menggunakan kan lap yang bersih dan kering
- Bersihkan lubang hidung dan mulut anak kambing yang baru lahir agar mudah bernafas.
Perawatan Anak Yang Baru Lahir :
- Setelah anak lahir maka akan segera menyusu pada induknya. Sebaiknya anak dibantu
untuk dapat segera menyusui induknya.
- Anak yang tidak segera menyusui dalam waktu 12 jam setelah lahir harus segera diberi
susu pengganti kolostrum.
Pembuatan Susu Kolostrum Buatan :
- Campurkan 0,25-0,5 liter susu sapi/susu bubuk dengan 1 sendok teh minyak ikan, 1 butir
telor ayam dan setengah sendok makan gula pasir. Berikan dengan cara dicekok 3 – 4 kali
sehari.

Read More..
| | edit post

Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 – 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: bibit, makanan, dan tata laksana.

BIBIT
Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.

Ciri untuk calon induk:

Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.

Jinak dan sorot matanya ramah.

Kaki lurus dan tumit tinggi.

Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.

Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.

Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.

Ciri untuk calon pejantan :

Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.

Kaki lurus dan kuat.

Dari keturunan kembar.

Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.

MAKANAN
Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).
Cara pemberiannya :

Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 – 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.

Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 – 1 kg/ekor/hari.

Read More..
| | edit post

Kelahiran Domba Garut

Waktu Kawin
Bulan
Hari
Tahun